Entri Populer

Kamis, 07 Oktober 2010

6 Rahasia Perkawinan Bahagia

Tahukah Anda, keberhasilan suatu perkawinan tergantung pada penerapan 6 kunci kebiasaan yang konsisten!
   
Kebiasaan #1 - Saling Memberikan Kesenangan

Pasangan menikah yang bahagia setuju untuk saling memberikan kesenangan. Anda harus tetap fokus pada tujuan akhir yaitu saling memberi kesenangan dan bukan penderitaan. Kedengarannya sederhana, tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Cobalah sehari saja, mempertahankan kesadaran dengan semua hal yang Anda lakukan dan menanyakan pada diri sendiri, "Apakah sesuatu yang akan saya katakan atau kerjakan akan membuat pasangan senang atau menderita?" Untuk memonitor bagaimana Anda melakukannya, masing-masing harus membuat dua daftar: satu daftar untuk semua hal yang dilakukan pasangan dan menyebabkan Anda menderita; satu lagi untuk mengidentifikasi apa yang dilakukan pasangan dan membuat Anda senang. Lalu Anda berdua saling bertukar daftar. Nah, Anda kini tahu dengan persis apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Jadi jangan menebak-nebak!
 
Kebiasaan #2 - Saling Menciptakan Cinta & Ritual Persahabatan

Ritual merupakan kebiasaan yang membangun dan menguatkan hubungan. Suatu pasangan sebaiknya memiliki ‘ritual sapaan' di malam hari ketika suami pulang dari kantor. Namun yang biasa terjadi adalah, saat kembali dari kantor, pertama-tama suami akan memeluk anak-anak, lalu ke kamarnya, menukar pakaian, menonton TV, lalu ke kamar mandi. Baru kemudian ke dapur dan menggerutu kepada istrinya, misalnya, "Sebaiknya kita makan lebih cepat agar besok pagi tidak terlambat datang ke rapat orangtua murid!" Mungkin ada pasangan yang mengatakan, ritual sejenis itu tak akan terlalu meningkatkan cinta mereka. Namun, ada pasangan yang setelah melihat bagaimana anjing piaraan menyapa setiap kali mereka pulang ke rumah, memutuskan untuk meniru ritual itu. Anjing gembira melompat-lompat ke majikannya dan menjilat mereka. Pasangan ini lalu memutuskan untuk saling menyapa, seperti halnya yang dilakukan oleh anjing piaraan mereka. Mereka pun mulai mencoba saling menyapa dan memeluk. Mereka bahagia dan anak-anak pun demikian. Nah, tindakan yang Anda lakukan akan merupakan cerminan dari perasaan Anda. Lalu, bagaimana ritual sapaan Anda? Berikut ini ada beberapa ritual yang harus Anda dan pasangan usahakan untuk dijalankan: * Setiap hari saling mengirim e-mail berisi kata-kata manis atau pujian * Setiap hari saling menelepon (terutama penting bagi para suami untuk menerapkannya) * Hari jadi atau hari ulang tahun layak diberi perhatian khusus. Buatlah rencana untuk melakukan sesuatu yang akan Anda berdua nikmati * Sebelum malam tiba, cobalah untuk saling mengucapkan pujian. Artinya, setiap malam selalu ada sesuatu yang baru! * Paling tidak, lakukan ‘kencan di malam hari' setiap satu kali dalam seminggu
 
Kebiasaan #3 - Menciptakan Tempat Aman Untuk Membahas Masalah Secara Jujur & Terbuka

Hubungan yang tak harmonis merupakan membuat Anda merasa takut untuk mengutarakan perasaan dan pendapat Anda. Pasangan menikah yang bahagia akan saling menciptakan kepekaan keselamatan, yang membuat setiap pasangan merasa nyaman dalam mengutarakan perasaan, masalah, dan ketidakpuasannya. Kepekaan akan keselamatan ini merupakan dasar di mana pasangan menegosiasikan segala hal yang mengganggunya. Wajar bagi setiap orang yang memulai hubungan memiliki harapan tentang segala hal akan terjadi. Tetapi, tanpa kemampuan mengkomunikasikan dan menegosiasikan, masalah itu justru menjadi sumber yang berpotensi merusak hubungan.
 
Kebiasaan #4 - Menggunakan Keterampilan Berkomunikasi Untuk Mengatasi Persoalan Penting 

  Teknik yang harus dipelajari setiap pasangan disebut "teknik pendengar - pembicara." Masalah yang paling sering dipertengkarkan sebagian besar pasangan adalah, menemukan solusi sebelum sungguh-sungguh memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan. Teknik pembicara - pendengar memastikan, sebelum Anda terlibat di dalam penemuan solusi, setiap pasangan harus merasa sungguh-sungguh didengar. Cara kerjanya: satu orang memegang peranan sebagai si pembicara. Yang satu lagi sebagai pendengar. Pendengar mengulang kembali atau mempertegas apa yang dikatakan si pembicara. Pendengar dapat menghentikan si pembicara jika apa yang dikatakan si pembicara terlalu banyak untuk diulang oleh si pendengar. Bilamana pasangan menggunakan teknik ini, praktis memastikan setiap orang akan dapat mengatakan segala hal yang perlu diucapkannya tanpa interupsi, bantahan, kritikan atau serangan. Hanya, setelah saling merasa sungguh-sungguh didengar pasangannya, barulah dimulai proses mengatasi masalah.
 
 Kebiasaan #5 - Selalu Saling Mendekati, Bukan Menjauh

Jika Anda melewati pasangan yang sedang duduk di meja kerjanya, apakah Anda berhenti dan mengelus lengannya, memberikan ciuman, dan membisikkan sesuatu yang manis untuk didengar? Atau, Anda tak mempedulikannya dan melewatinya begitu saja? Peneliti perkawinan melihat, setiap ada kesempatan, pasangan menikah yang bahagia selalu mendekati pasangannya. Mereka selalu mencari cara agar selalu dekat, baik secara fisik maupun emosi, dengan pasangannya. Saling mendekati pasangannya berarti menomorsatukan pasangan Anda. Aspek penting lain dari saling mendekati adalah bersama-sama melakukan hal-hal yang disenangi. Jalan pagi bersama, minum kopi sesudah makan malam, saling memberi sentuhan lembut, mendengarkan musik bersama, semua ini merupakan contoh baik bagi pasangan yang saling mendekati. Dan cara manjur untuk saling mendekati, dengan memperlihatkan rasa hormat, yaitu berdiri di saat pasangan memasuki ruangan. Kedengarannya kuno? Memang. Tetapi ini merupakan cara paling manjur untuk mendekati pasangan dan membuatnya merasa diistimewakan. Sebaliknya, pasangan yang saling ‘menjauh' tidak mengembangkan kedekatan.
 
Kebiasaan #6 - Tanamkan Kehidupan Perkawainan Dengan Berbagi Arti

Manusia membutuhkan arti, sama seperti membutuhkan air. Pasangan menikah yang bahagia memperkaya hubungannya dengan saling berbagi pengalaman berarti. Artinya, berbagi filosofi umum dari kehidupan dan tujuan kehidupan. Cara spesifik lainnya, dengan bersama-sama mengunjungi keluarga atau kenalan yang sakit atau bersama-sama menyiapkan kado untuk teman yang baru melahirkan. Jika suatu pasangan bersungguh-sungguh saling berbagi pengalaman berarti, maka mereka saling terikat pada tingkatan yang lebih dalam. Keenam kebiasaan ini tampaknya seperti hal kecil saja, tetapi jika dipraktekkan secara sungguh-sungguh dan konsisten, akan membentuk sebuah perkawinan yang kuat. Percayalah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar